Make your own free website on Tripod.com

" Selamat Datang di UKM - ITB Website .......... Salam sarato Sambah dari kami, Keluarga Besar UKM- ITB "

 

ADAT ISTIADAT MINANGKABAU

(downloaded from RantauNet, Airland)

I. P E N D A H U L U A N

1. MINANGKABAU

1. 1 Minangkabau adalah nama suatu bangsa, nama suatu kebudayaan sebagai hasil karya, cipta, karsa, daya dan upaya suku bangsa itu untuk memenuhi kebutuhan material dan nonmaterialnya dalam suatu wilayah yang juga bernama Minangkabau. Bagi masyarakat Minangkabau dinamakan "ADAT ISTIADAT MINANGKABAU" yang dianutnya semenjak berabad-abad yang lampau sebagai ciptaan nenek moyang mereka yakni dua tokoh legendaris Datuak Pertatiah Nan Sabatang dan Datuak Katumanggungan.

1.2 Berbicara tentang Adat Minangkabau, menggali dan mempelajari dan mengamalkannya, bukanlah bermaksud menonjolkan sukuisme, tetapi adalah berbicara tentang salah satu ke Bhinekaan dari kebudayaan nasional yang BERBHINNEKA TUNGGAL IKA, sesuai dengan maksud yang terkandung dalam pasal 32 UU dasar 45. Yang berbunyi: Kebudayaan bangsa ialah kebudayaan yang timbul sebagai usaha budi daya rakyat Indonesia seluruhnya. Kebudayaan lama dan asli yang terdapat sebagai puncak-puncak kebudayaan di daerah-daerah di seluruh Indonesia terhitung sebagai kebudayaan bangsa.

1.3 Adat Minangkabau sebagai salah satu bagian dari kebudayaan nasional diwarisi dari nenek moyang dahulunya bukanlah merupakan pengetahuan yang dikodivikasikan sebagaimana layaknya pengetahuan sosial lainnya di dunia. Adat Minangkabau diterima secara turun tenurun dari mulut kemulut (Warieh Samo Dijawek, Tutua Samo Didanga) melalui pepatah-petitih, mamang, bidal, Pantun, dan Gurindam Adat. Di-mana seluruh kalimat-kalimatnya mengandung pengertian yang tidak langsung (Inderect). Di Minangkabau disebut dengan pengertian (Kieh) atau Kiasan, yang sangat sulit diartikan secara logika sesuai dengan letterlecht, kalau diartikan menurut pengertian logika, maka hasilnya akan bertentangan logika itu sendiri (mustahil). Akhirnya orang yang membaca atau mendengar pepatah-petitih, mamang, bidal, pantun dan gurindam adat itu tidak benar, kolot, bertentangan dengan kemajuan bahkan menghalangi pembangunan. Justru Adat Minangkabau yang dihimpun dalam papatah-petitih, mamang, bidal, pantun dan gurindam adat itu membutuhkan kejelian, kecepatan dan ketepatan, akal pikiran (raso-pareso, ereang-gendeang, kilek jo bayang), menurut orang Minangkabau.

" Alun takilek lah takalam,
bulanlah sangkok tigo puluah,
bulan taliek lah dimakan,
lah tantu tampek bakeh tumbuah,
takilek ikan dalam aia,
ikan takilek jalo tibo tantu jantan batinonyo ".

Sebagai contoh dapat dikemukakan beberapa macam pepatah-petitih, mamang, bidal, pantun dan gurindam Adat Minangkabau antara lain

" Duduak surang basampik-sampik,
duduak basamo balapang-lapang,
bulek aia dek pambuluah,
bulek baru digolekkan,
pipieh baru dilayangkan,
bulek jan basuduik,
pipieh jan basandiang,
data balantai papan,
licin balantai camin,
tapawik makanan lantak,
takuruang makanan kunci,
tinggi tak dapek dipanjek,
randah tak dapek dilangkahi.

- Taimpik diateh takuruang dilua,
bajalan surang daulu,
bajalan baduo ditangah,
sampik lalu lungga batokok,
dilampok kariang dikirai basah,
tagang bajelo-jelo,
kandua badanting-dantiang.

- Ingek-ingek nan diateh,
nan dibawah kok maimpok,
tirih kok datang dari lantai,
galodo kok datang ilia,
jarek sarupo jo jurami,
jarek tak lupo di balam,
balam nan lupo di jarek.

- nan dicancang andilau,
nan mangarik tibarau,
raso aia kapamatang,
raso minyak kakuali,
nan bakabek rasan tali,
nan babungkuih rasan daun,

dan sebagainya ".

Pepatah-petitih, mamang, bidal, pantun dan gurindam diatas seluruh pengertiannya tidak diterima secara logika oleh kita masing-masing, namun didalamnya terkandung pengertian yang terselubung dan sangat filosofis, seperti maksud yang terkandung dalam mamang adat :

WILAYAH MINANGKABAU

Wilayah Adat Minangkabau dalam ketentuan Adat Minangkabau dihimpun dalam suatu ungkapan yang berbunyi :

- Nan salilik Guning Marapi,
nan saedaran Gunuang Singgalang,
sajajaran Talang jo Karinci,
saputaran Tandikek jo Pasaman,
saedaran Gunuang Sago,

- Dari Singkarak dan Badangkang,
hinggo Buayo Putiah Daguak,
sampai ka Pintu Rajo Ilie,
Durian di Takuak Rajo,

- Si pisau-pisau anyuik,
Sialang balantak basi,
Hinggo aia babaliek Mudiak,
Sailiran batang Bangkaweh,
sampai ka Ombak Nan Badabuah,

- ka Timua Ranah Aia Bangih,
Rao jo Mapattunggua,
Gunuang Mahalintang,
hinggi di lawik nan Sadidih,
Pasisie Banda Sapuluah,
Taratak Aie Hitam,
hinggo Tanjuang Simalidu ".

2.2 Minangkabau adalah teritorial menurutKultur Minangkabau sedang daerahnya terdiri dari atas 3 (tiga) bagian yaitu
a. Daerah darek. Dataran tinggi terdiri atas bukit barisan yang membujur dari utara ke selatan.
b. Pasisie. adalah daerah yang terletak disepanjang pantai bagian barat tengah pulau sumatera dari perbatasan Tapanuli selatan dan Muko-muko perbatasan propinsi Bengkulu.
c. Rantau. adalah daerah yang terletak dihiliran sungai sebelah Timur yang berpapasan dengan lautan Cina Selatan dan Selat Malaka, seperti segeri sembilan Malaysia, Seremban sri menanti serta daerah sekitarnya.

2.3. Daerah darek yang merupakan daerah asalnya Minangkabau dengan ibu negerinya Pariangan Padang Panjang di Kabupaten Tanah Datar, dan pusat kebudayaannya berpusat di Pagaruyuang Batusangkar. Daerah Darek terdiri atas 3 (tiga) Luhak yaitu :
a. Luhak Tanah Data disebut Luhak tertua, Ibu Negerinya Batusangkar.
b. Luhak Agam disebut Luhak Nan Tangah, Ibu Negerinya Bukittinggi.
c. Luhak 50 Koto Ibu Negerinya Payakumbuh.

2.4. Daerah Pasisie adalah merupakan daerah " Panjang nan bakaratan, Laweh nan Basibiran, Gadang nan Bakabuangan", dari daerah darek setelah berkembangnya penduduk. Begitupun daerah rantau yang disebut didalam Adat "Rantau nan kurang Aso Duo Puluah", semuanya berasal dari luhak nan Tigo itu tadi yang disebut daerah minangkabau yang merupakan suatu kesatuan yang tak dapat dipisahkan (Nan ba-Adat sabatang, bapusako sabuah), serta sama-sama menganut sistem Materilinial (keturunan ditarik dari garis keturunan Ibu) sebagai ciri khasnya Adat Minangkabau di Nusantara ini.

2.5. Daerah Minangkabau tersebut diatas sebelum penjajahan pemerintahannya diatur dengan sistem :
a. Kelarasan Bodi Caniago (sistemnya Batanggo Naiak).
b. Kelarasan Koto Piliang (sistemnya batanggo Turun).

II. ADAT MINANGKABAU

1. Adat Minangkabau sebagai salah satu corak dari kebudayaan Nasional tidak mungkin dapat dihayati apalagi untuk diamalkan dalam kehidupan bermasyarakat bagi masyarakat Minangkabau sendiri, kalau tidak mengetahui secara baik dan benar 4 (empat) persoalan pokok yaitu : a. Pengertian tentang adat Minangkabau. b. Sumber dasar ajaran Minangkabau. c. Nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran Adat Minangkabau. d. Tujuan apa yang hendak dicapai dengan mengetahui dan mengamalkannya.

a. Pengertian tentang Adat Minangkabau. a)1. Menurut bahasa, Adat itu adalah : Sawah diagiah bapambatang, ladang dibari bamintalak, Padang dibari baligundi, Bukik dibari bakaratau, Rimbo dibari bajiluang, nak Babezo tapuang jo sadah, nan babiteh minyak jo aia, nak balain kundua jo labu. Artinya dalam bahasa Indonesia normal : Norma-norma yang mengatur tata nilai dan struktur masyarakat yang membedakan secara tajam antara manusia dengan hewani dalam tingkah laku dalam pergaulan sehari-hari. Dimana pepatah-petitih, mamang, bidal, pantun dan gurindam ada yang kalimat-kalimatnya mengandung pengertian kiasan (Indirect).

a)2. Justru Adat Minangkabau tersebut mengatur tingkah laku anggota masyarakat dari tingkah laku yang sekecil-kecilnya sampai tingkah laku yang luas dan besar seperti suatu nagari. Manusia dan hewani banyak persamaan dalam tingkah laku, terutama tingkah laku dalam mencapai kepentingan Biologis. Sebagai contoh : kalau manusia membutuhkan makanan dan minum, tidur, berjalan, buang air kecil dan besar, mandi, bergaul, nafsu sex, kawin, berketurunan, duduk dan sebagainya, hewanpun juga demikian.

a)3. Untuk membedakan tingkah laku manusia dengan hewan dalam mencapai kebutuhan Biologis dalam pergaulan hidup, maka nenek-moyang orang Minangkabau menciptakan Adat-Istiadat sebelum agama Islam masuk ke Minangkabau dipenghujung Abad ke-14. Setelah agama Islam masuk ke Minangkabau dan menjadi panutan masyarakat, ternyata ajaran Islam banyak mempunyai persamaan dengan Ajaran Adat Minangkabau, kecuali tentang Aqidah dan Syari'at. Dalam waktu yang tidak begitu lama Islam diterima oleh Adat Minangkabau tanpa menimbulkan benturan yang berarti, lahirlah Pepatah Adat sebagai Filsafat hidup masyarakatnya : "Adat basandi Syara', Syara' Basandi Kitabullah" Artinya : " Adat Minangkabau disempurnakan, diperkokoh oleh ajaran Islam, seperti kokoh rumah karena sandinya". ( rumah gadang basandi batu, Kuek rumah karano sandi, rusak sandi rumah binaso).

a)4. Jadi jelas fungsi Adat Minangkabau dalam pergaulan sehari-hari adalah membedakan secara tajam tingkah laku manusia dan hewan, dengan mengatur segalanya dengan aturan adat Minangkabau, Seperti minum, makan, duduk, tidur, mandi, buang air kecil, dan besar, berdiri, berjalan, bergaul, berbicara antara sesama, menyalurkan sex, berkeluarga, bersuami-istri dan sebagainya diatur menurut Adat Minangkabau. Jadi singkatnya orang beradat itu adalah orang-orang yang bertingkah laku dalam pergaulan dengan baik yang senantiasa memikirkan orang lain, bukan memikirkan kepentingan dirinya sendiri, seperti kata pepatah : "Elok dek awak katuju dek urang".

b. Sumber Dasar Ajaran Adat Minangkabau. b)1. Agama Islam sebagai agama Samawi sumbernya adalah dari kitab Suci Al'Quranul Karim yang diwahyukan-Nya melalui Jibril A>S kepada Rasulullah Muhammad SAW. dan dari Hadist Rasulullah SAW. Sedangkan Adat Minangkabau selama putaran zaman dilorong waktu, mengalami pengalaman tentang fenomena-fenomena yang diamatinya, baik dari alam benda, flora dan fauna, maupun dirinya sebagai manusia, ia menemukan bahwa alam itu mengandung suatu kodrat dan sifat-sifat yang laten dan dauriah, yang dapat dimamfaatkan atau ditanggulangi sesuai dengan mamfaat yang dipetik atau mudharat yang ditolak dari padanya. Dari pengalaman yang interns dan Konteplatif tentang alam makro dan mikro. Demikianlah, manusia Minangkabau sampai kepada kesimpulan bahwa : ALAM TAKAMBANG ADALAH GURU, artinya alam dapat dipelajari, dipedomani, diatur dan dimamfaatkan, serta dalam batas-batas tertentu dikendalikan. Inilah yang dimaksud oleh pepatah Adat :

" Nan Satitiek Jadikan lawik,
nan Sakapa Jadikan Gunuang,
Alam Takambang Jadikan Guru".

Kedatangan agama Islam memperkokoh dan memperkuat dengan ditemuinya ayat Al-Imran 190.- Al. Baqarah 31, dan 164, Al.Ghasiyah 17-19. dalam Al-Quranul Karim yang Mahfumnya mengandung pengertian, pelajaran alam sekitarnya kita sebagai tanda-tanda, kebesaran-Nya.

b)2. Sosiologis, dalam menata dan mengelola masyarakatnya yang terus berkembang biak, mereka selalu menyesuaikan diri dengan irama alam yang dipahami dan ditafsirkannya. Penyesuaian dengan alam lingkungan yang dibacanya dengan cermat itu dimanifestasikannya dalam sistem dan struktur sosial dan kekeluargaan yang dikenal sebagai masyarakat yang materinial, yakni keturunan menurut garis Ibu, sebagai salah satu ciri khas kebudayaan Adat Istiadat Minangkabau itu, sebagaimana yang berlaku pada masyarakat flora dan fauna. Sistem materilinial ini telah membawa konsekwensi logis historis ketika "MANARUKO", dimulai oleh para penggarap yang terdiri dari kelompok orang-orang bersaudara se-Ibu (belum tentu se-Ayah), yang kemudian menjadi penguasa atas tanah garapan mereka secara bersama (kolektif) dan selanjutnya melahirkan hukum pemilikan dan pewarisan atas tanah sebagai (Harato Pusako). Logikapun mendukung sistem itu, bahwa setiap orang, fauna maupun flora, hanya dapat dibuktikan, disaksikan dan akhirnya dipastikan bahwa "seseorang" adalah anak Ibunya, ketimbang untuk mengatakan ia anak ayahnya yang semata-mata berdasarkan pengakuan.

b)3. Sistem Urang Sumando adalah salah satu Implementasi dari logika tersebut. Sistem Materilinial mempengaruhi seluruh sub. Sistem dan struktur sosial, posisi dan fungsi kepemimpinan dalam masyarakat, bahkan mempengaruhi sistem nilai, norma-norma moral dan etika, rasa malu, solidaritas sosial, peduli lingkungan serta tingkah laku. "Alam takambang" memberikan warna pula pada idiom dan diktum untuk menetapkan norma-norma ukuran, baik dan buruk, benar dan salah, sumbang dan janggal, dan sebagainya. Ungkapan-ungkapan pepatah-petitih, maman, bidal, pantun dan gurindam ada pada lazimnya disusun berpasangan, antara alam dan manusia, benda dan ide, konkrit dan abstrak, lahir dan bathin dan sebagainya, sesuai dengan persepsinya tentang alam yang berpasangan dinamakan Pepatah-petitih. Umumnya berbetuk metafora atau perlambang yang secara idiomatis bersifat Agraris, nelayan, tukang, dagang dan

Pepatah-petitih tersebut diciptakan untuk seluruh orang dan untuk seluruh tingkatan masyarakat. Sebuah kebudayaan yang khas telah tersusun sejak berabad-abad, yang mengalir pada jalurnya yang khas, yang oleh penganutnya dinamakan Adat Minangkabau. Catatan : Terdapat perbedaan definisi antara kata kebudayaan dengan kata adat. Kebudayaan : Adalah seluruh produk manusia baik material maupun non meterial untuk memenuhi kebutuhannya yang dipengaruhi oleh alam lingkungannya. Sifat kreatif, yang terbagi kepada : Bahasa , seni, tekhnologi, sains, ekonomi, tata sosial, idiologi dan filsafat. Adat: Adalah produk manusia untuk mengatur diri dan masyarakatnya secara timbal-balik serta mengatur hubungan dengan benda alam lingkungannya, sifatnya Normatif. Dengan demikian sebenarnya Adat Minangkabau adalah bagian dari kebudayaan.

b.4. Untuk membuktikan bahwa kaidah-kaidah Adat Minangkabau yang terdiri dari pepatah-petitih, mamang, bidal, pantun dan gurindam adat, adalah kata-kata yang terdapat pada fenomena-fenomena alam, flora, dan fauna, alam benda, dirinya sendiri sebagai ciptaan-Nya, disusun menjadi pepatah-petitih Adat Minangkabau dan dijadikan sebagai norma-norma untuk mengatur kehidupan bermasyarakat. Hal yang demikian dapat dilihat dan diteliti satu persatu dari kaidah-kaidah adat tersebut seperti pepatah-petitih, mamang, bidal, pantun, dan gurindam adat. Sekaligus kaidah-kaidah adat tersebut dalil sebagai rujukan dari setiap permasalahan hidup bermasyarakat seperti : Ekonomi, sosial, budaya, hukum, politik, pertahanan dan keamanan dan lain sebagainya. Fenomena-fenomena alam yang merupakan sifat dan hukum dari alam takambang jadi guru antara lain:

Air; membasahkan, menyejukkan, menenggelamkan Api; membakar, panas, Tajam; melukai, Buluh; berbuku, Kelapa; bermata, Kayu; bertunas, berpokok berdahan, berurat tunggang, beranting berdaun, berbunga, berbuah, Burung; terbang, bersayap, berbunyi, Harimau; belang, mengaum, Gajah; bergading, mendorong, berbelalai, Gunung; tinggi, berkabut, Bukit; berangin, Laut; berombak, Lurah; berair, Warna; Hitam, putih, kuning, biru, merah, besi/batu; keras, Bau; harum, busuk, Keras/lunak, dan sebagainya

c. Nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran adat Minangkabau c)1. Menurut bahasa Adat adalah : raso, Pareso, Malu Sopan. (empat) macam. kehilangan yang empat macam ini dalam diri pribadi seseorang disebut seorang yang tidak tau di AMPEK. Seperti dari seseorang sudah hilang "raso jo Pareso, habis malu jo sopan". Orang yang demikian adalah hewan yang berbentuk manusia (sama dengan hewan) karena tingkah lakunya telah menyerupai tingkah laku hewan dalam pergaulan antar sesama.

Raso : adalah yang terasa pada diri. Pareso : adalah nan tertanggung bagi hati. Malu : adalah tanggungan hati. Sopan : adalah perilaku seseorang yang terbina karena raso, pareso, dan malu. Hilang yang empat macam ini hilanglah segala-galanya. c)2. Keempat macam yang tersebut diatas adalah manifestasi dari BUDI PEKERTI YANG BAIK dari seseorang. Jadi nilai-nilai ajaran adat adalah : BUDI PEKERTI YANG BAIK DAN MEMPUNYAI RASA MALU DIDALAM DIRI. Kedua macam tersebut adalah ajaran yang bersamaan dengan ajaran Islam dan untuk itulah nabi Muhammad SAW di Rasulkan kedunia beliau bersabda : Sesungguhnya aku diutus memperbaiki budi pekerti manusia. Kesempurnaan Iman seorang mukmin terletak pada budinya yang baik. Malu adalah bagian dari Iman. Kalau kamu tidak akan memakai sifat malu, bikinlah sekehendak hatimu (Al-Hadist). Pepatah-pepatah mengatakan : " Nan kuriak kundi, nan merah sago, nan baiak budi, nan indah bahaso".

c3.) Budi pekerti yang baik dan mulia adalah segala-galanya menurut adat Minangkabau yang merupakan tali halus yang kokoh yang menghubungkan manusia dengan manusia secara baik, pepatah mengatakan : " Saukua mangko ka jadi, sasuai mako takanak, kalau pandai bamain budi, urang jauah jadi dunsanak " Kehilangan budi pekerti yang baik pada seseorang, masyarakat maupun bangsa, akan mengundang kehancuran dalam masyarakat tersebut, pepatah mengatakan : " kuat rumah karano sandi, rusak sandi rumah binaso. kuek bangso karano budi, rusak budi hancualah bangso."

c)4. Malu adalah sifat terpuji yang harus dimiliki oleh setiap orang laki dan perempuan yang telah baliq dan berakal. Kehilangan malu bagi seseorang manusia hilang harga dirinya sekaligus martabatnya sebagai manusia, jatuh menjadi sama dengan martabat hewani. Pepatah mengatakan : " rarak kaliki dek mindalu, Tumbuah sarumpun ditapi tabek, kok hilang raso jo malu, bak kayu lungga pangabek, nan urang koto ilalang, nak lalu kapakan baso, malu jo sopan kalau hilang, abihlah raso jo pariso".

d. Tujuan yang hendak dicapai dengan mengetahui dan mengamalkannya Tujuan yang hendak dicapai dengan mengamalkan Adat secara baik dan benar disebutkan dalam ketentuan Adat Minangkabau : " Bumi sanang padi manjadi, Padi kuniang jaguang maupiah, taranak bakambang biak, anak buah sanang santoso, bapak kayo mandeh ba ameh, mamak disambah urang pula, katapi bagantang padi, katangan bagantang podi ". Artinya tujuan yang hendak dicapai menurut adat Minangkabau dimulai terlebih dahulu dengan menciptakan "Bumi sanang", ketertiban dalam masyarakat kecil atau besar seperti keluarga, masyarakat dan bangsa. Dengan terciptanya ketertiban dalam segala bidang terwujudlah ketentraman dan keamanan, yang pada gilirannya akan bermuara kepada stabilitas dalam segala bidang, yang memungkinkan untuk melakukan pembangunan, moril-materil, mental-spiritual.

III. EMPAT JENIS ADAT DI MINANGKABAU

1. Adat Minangkabau terdiri atas empat jenis yaitu :

a. Adat nan sabana Adat b. Adat nan diadatkan oleh nenek moyang. Kedua jenis Adat pada a dan b hukumnya babuhua mati (tidak boleh dirobah-robah walau dengan musyawarah mufakat sekalipun ). c. Adat teradat. d. Adat Istiadat. Kedua jenis Adat pada c dan d hukumnya babuhua sentak (boleh dirobah-robah asal dengan melalui musyawarah mufakat).

a). Adat nan sabana adat. a)1. Adat nan sabana Adat, adalah ketentuan hukum, sifat yang terdapat pada alam benda, flora dan fauna, maupun manusia sebagai ciptaan-Nya (Sunatullah). Adat nan sabana Adat ini adalah sebagai "SUMBER" hukum Adat Minangkabau dalam menata masyarakat dalam segala hal. Dimana ketentuan alam tersebut adalah aksioma tidak bisa dibantah kebenarannya. Sebagai contoh dari benda Api dan Air, ketentuannya membakar dan membasahkan. Dia akan tetap abadi sampai hari kiamat dengan sifat tersebut, kecuali Allah sebagai sang penciptanya menentukan lain (merobahnya). a)2. Alam sebagai ciptaan-Nya bagi nenek moyang orang Minangkabau yakni Datuak perpatiah nan sabatang dan datuak ketumanggungan diamati, dipelajari dan dipedomani dan dijadikan guru untuk mengambil iktibar seperti yang disebutkan dalam pepatah-petitih Adat :

" Panakiak pisau sirawik,
ambiak galah batang lintabuang,
silodang ambiakkan niru,
nan satitiak jadikan lawik,
nan sakapa jadikan gunuang,
Alam Takambang Jadi Guru. "

b).Adat nan diadatkan oleh nenek-moyang. b)1. Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya diatas yakni dengan meneliti, mempedomani, mempelajari alam sekitarnya oleh nenek-moyang orang Minangkabau, maka disusunlah ketentuan-ketentuan alam dengan segala fenomena-fenomenanya menjadi pepatah-petitih, mamang, bidal, pantun dan gurindam Adat dengan mengambil perbandingan dari ketentuan alam tersebut, kemudian dijadikan menjadi kaidah-kaidah sosial untuk menyusun masyarakat dalam segala bidang seperti : ekonomi, sosial budaya, hukum, politik, keamanan, pertahanan dan sebagainya. b).2 Karena pepatah-petitih tersebut dicontoh dari ketentuan alam sesuai dengan fenomenanya masing-masing, maka kaidah-kaidah tersebut sesuai dengan sumbernya tidak boleh dirobah-robah walau dengan musyawarah mufakat sekalipun. Justru kedua jenis Adat pada huruf a dan b karena tidak boleh dirobah-robah disebut dalam pepatah :

b).2 Karena pepatah-petitih tersebut dicontoh dari ketentuan alam sesuai dengan fenomenanya masing-masing, maka kaidah-kaidah tersebut sesuai dengan sumbernya tidak boleh dirobah-robah walau dengan musyawarah mufakat sekalipun. Justru kedua jenis Adat pada huruf a dan b karena tidak boleh dirobah-robah disebut dalam pepatah :

"Adat nan tak lakang dek paneh,
tak lapuak dek hujan,
dianjak tak layua,
dibubuik tak mati,
dibasuah bahabih aia,
dikikih bahabih basi".

Artinya adalah " Kebenaran dari hukum alam tersebut ". Selama Allah SWT, sebagai sang pencipta ketentuan alam tersebut tidak menentukaan lain, maka ketentuan alam tersebut tetap tak berobah, contoh pepatah :

" lawik barombak,
gunuang bakabuik,
lurah baraia,
api mambaka,
aia mambasahkan,
batuang babuku,
karambia bamato,
batuang tumbuah dibukunyo,
karambia tumbuah dimatonyo ".

Jadi dapat diambil kesimpulan bahwa " Adat nan diadatkan nenek moyang " adalah merupakan pokok-pokok hukum dalam mengatur masyarakat MinangKabau dalam segala hal, yang diadatkan semenjak dahulu sampai sekarang. Uraian secara agak mendasar kita kemukakan dalam halaman selanjutnya pada kaidah-kaidah dalam pepatah-petitih, mamang, bidal, pantun, dan gurindam Adan nantinya. Pepatah-petitih, mamang bidal, pantun dan gurindam Adat yang disusun dari ketentuan-ketentuan alam dengan dengan segala fenomenanya itu berguna untuk "mengungkapkan" segala segala sesuatu dalam pergaulan seperti : Menyuruh, melarang, membolehkan, ke-baikan, keburukan, akibat yang baik, akibat yang buruk, kebenaran, keadilan, kemakmuran, kerusuhan, kebersamaan, keterbukaan, persatuan dan kesatuan, bahaya yang menimpa, kesenangan, kekayaan, kemiskinan, kepemimpinan, kepedulian, rasa sosial, keluarga, masyarakat, moral dan akhlak, dan sebagainya.

c. Adat Teradat c)1. Adat teradat adalah peraturan-peraturan yang dibuat oleh penghulu-penghulu Adat dalam suatu nagari, peraturan guna untuk melaksanakan pokok-pokok hukum yang telah dituangkan oleh nenek moyang (Dt. Perpatiah Nan Sabatang dan Dt. Ketumanggungan) dalam pepatah-petitih Adat. Bagaimana sebaiknya penetapan aturan-aturan pokok tersebut dalam kehidupan sehari-hari dan tidak bertentangan dengan aturan-aturan pokok yang telah kita warisi secara turun-temurun dari nenek-moyang dahulunya. Sebagai contoh kita kemukakan beberapapepatah-petitih, mamang, bidal, Adat yang telah diadatkan oleh nenek moyang tersebut diatas seperti :

" Abih sandiang dek Bageso,
Abih miyang dek bagisiah".

Artinya nenek-moyang melalui pepatah ini melarang sekali-kali jangan bergaul bebas antara dua jenis yang berbeda sebelum nikah (setelah Islam) atau kawin (sebelum Islam).

- Untuk terlaksananya ketentuan larangan ini oleh anggota masyarakat, maka pemimpin-pemimpin adat di suatu nagari bermusyawarah untuk mufakat dengan hasil mufakat bulat. Dilarang bagi kaum wanita remaja keluar malam setelah jam delapan, kecuali ditemani oleh orang tuanya. Peraturan ini hanya berlaku di nagari tersebut saja, belum tentu tidak berlaku pada nagari lainnya. (desebut juga Adat Salingka nagari).

" lain nagari lain adatnyo,
lain padang lain belalangnyo,
lain lubuak lain ikannyo"
.

- Setiap perkawinan kaidah pokok dari nenek-moyang

" ayam putiah tabang siang,
basuluah matohari,
bagalanggang mato rang banyak,
datang bajapuik pai baanta,
arak sapanjang labuah,
iriang sapanjang jalan"
.

Untuk pelaksanaan aturan pokok tentang perkawinan ini, maka nagari-nagari penghulunya membuat peraturan pelaksanaan melalui musyawarah mufakat. Ada dengan ketentuan "ada nagari yang membuat keputusan pelaksanaan jemput antar disiang hari, ada pula dimalam hari dengan mengutamakan seluruh masyarakat mengetahui bahwa sipolan dengan sipolin telah nikah. Ada pula keputusan penghulu disuatu nagari yang membuat peraturan seperti : Kedua marapulai diarak dengan pakaian yang diatur pula dengan musyawarah. Aturan Adat ini belum tentu sama dengan aturan nagari lainnya.

c)2. Begitupun peresmian " S a k o " (gelar pusaka) kaum atau penghulu, ada nagari yang memotong kerbau, ada banteng, ada kambing, ada dengan membayar uang adat kenagari yang bersangkutan. Semuanya adalah aturan pelaksanaan dari peresmian satu gelar pusaka kaum (Sako) yang diambil keputusannya melalui musyawarah mufakat. dan lain sebagainya.

" Lain lubuak lain ikannyo,
lain padang lain balalangnyo".

d. Adat Istiadat

d)1. adat Istiadat adalah peraturan-peraturan yang juga dibuat oleh penghulu-penghulu disuatu nagari melalui musyawarah mufakat sehubungan dengan sehubungan dengan "KESUKAAN" anak nagari seperti kesenian, olah raga, pencak silat randai, talempong, pakaian laki-laki, pakaian wanita, barang-barang bawaan kerumah mempelai, begitupun helat jamu meresmikan "S a k o" itu tadi. Begitu pula Marawa, ubur-ubur, tanggo, gabah-gabah, pelamina dan sebagainya yang berbeda-beda disetiap nagari. Juga berlaku pepatah yang berbunyi :

" Lain lubuak lain ikannyo,
lain padang lain balalangnyo,
lain nagari lain adatnyo (Istiadatnya) ".

d)2. Kedua jenis adat nan teradat dan Adat Istiadat tersebut adalah peraturan pelaksanaan dari aturan-aturan pokok yang telah diciptakan oleh nenek-moyang, dimana dua macam jenis huruf c dan d "Adat nan babuhua sentak" artinya : aturan Adat yang dapat dirobah, dikurangi, ditambah dengan melalui musyawarah mufakat dan selama tidak bertentangan dengan pokok hukum yang telah dituangkan dalam pepatah-petitiah ciptaan nenek-moyang (kato Pusako) Adat.

Namun keempat jenis Adat tersebut merupakan suatu kesatuan yang tak dapat dipisahkan satu dengan yang lain, secara utuh disebut ( ADAT ISTIADAT MINANGKABAU ).

IV. BEBERAPA KETENTUAN-KETENTUAN ADAT MINANGKABAU

Ketentuan-ketentuan Adat Minangkabau dituangkan dalam bentuk pepatah-petitih, mamang, bidal, pantun dan gurinda m Adat yang dijadikan rujukan setiap persoalan.

1. Ketentuan Adat tentang kedudukan seseorang sebagai pribadi :

" Pulai batingkek naiak,
maninggakan ruweh ji buku,
mati rimau maninggakan balang,
mati gajah maniggakan gadiang,
mati manusia maninggakan jaso.

- Nan kuriak iolah kundi,
nan merah iolah sago,
nan baiak iolah budi,
nan endah iolah baso.

- Pulau pandan jauah ditangah,
dibaliak pulau anso dua,
hancua luluah dikanduang tanah,
budi baiak takana juo.

- Pisang ameh baok balaie,
masak sabuah didalam peti,
utang ameh dapek di baia,
utang budi dibaok mati.

- Saukua mako manjadi,
sasuai mako takanak,
jo kok pandai bamain budi,
urang jauh jadi dunsanak.

- Talangkang carano kaco,
badarai carano kendi,
sipuluik samo rang randangkan,
bacanggang karano baso,
bacarai karano budi,
itu nan samo rang pantangkan.

- Dek ribuik rabahlah padi,
dicupak nak urang canduang,
iduik kok tak babudi,
duduak tagak kamari tangguang.

- Batang anau paantak tungku,
pangkanyo sarang limpasan,
ligundi di sawah ladang,
sariak indak babungo lai.
Mauleh kalau mambuku,
mambuah kalau mangasan,
budi kok kelihatan dek urang,
iduik indak baguno lai.

- Kuat rumah karanao sandi,
rusak sandi rumah binaso,
kuat bangso karano budi,
rusak budi hancualah bangso.

2. Larangan adat kepada setiap pribadi :

- Kok gadang jan malendo,
panjang jan malindih,
mahariak mahantam tanah,
bataratak bakato asiang,
nan babana kapangka langan,
nan batuak ka ampu kaki.

- Mangguntiang dalam lipatan,
manuhuak kawan sairiang,
malakak kuciang didapua,
manahan jarek dipintu,
mancari dama kabawah rumah,
mamapeh dalam balango.

- Pilin kacang nak mamanjek,
pilian jatiang nak barisi,
lain geleang panokok,
asiang kacundang sapik,
duduak sarupo urang kumanjau,
tagak saroman kamambali.

- Kacak langan bak langan,
kacak batih lah bak batih,
bak sibujang joloang babakarih,
bak sigadih jolong basubang,
lonjak labu dibanam.

- Geleang kapalo bak si patuang inggok,
sifat ibarat lipeh tapanggang,
tingkah ibarat caciang kapanasan,
bak baluik di galitiak ikua.

3. Yang harus diingat dalam pergaulan terutama terhadap yang tua umurnya :

- Jalan mandata ingek tataruang,
jalan manurun ta antak-antak,
jalan mandaki sasak angok,
jalan malereang kok tagalincia.

- Nan tuo dihormati,
nan ketek dikasihi,
samo gadang baok bakawan,
ibu-bapo labiah sakali, guru dihargoi.

- Manyuak diilia-ilia,
bakato dobawah-bawah,
dimano bumi dipijak,
disinan langik dijunjuang,
dimano rantiang dipatah,
sinan sumua dikali,
dimano sumua dikali,
sinan aia disauak,
dimano nagari diuni,
sinan adat dipakai,
lawik sati rantau batuah.

- Malu batanyo sasek dijalan,
sagan bagalah hanyuik sarantau,
nan tahu diposo-poso ayam,
nan tahu dikili-kili jawi,
nan tahu dikayu tinggi alang.

- Gadang buayo dimuaro,
gadang garundang dikubangan,
gadang samuik diliangnyo,
gadang nago dikualo.

4. Pemimpin yang bijaksana

Adalah pemimpin yang menghargai dan mempergunakan setiap orang sesuai dengan kemampuannya masing-masing.

- Nan bungkuak katangkai bajak, nan lurui katangkai sapu, satampok kapapan tuai, nan ketek kapasak suntiang.

- Panarahan kakayu api, abunyo kapupuak padi, Nan buto pahambui lasuang, nan pakak pamasang badia, nan lumpuah paunyi rumah, nan binguang di suruah-suruah, nan cadiak bakeh batanyo, nan alim bakeh baguru, nan pandai bakeh baiyo, nan kayo tampek batenggang, nan elok palawan dunia.

5. Karena adat itu basandi sarak, syarak basandi kitabullah, maka menjadi kokoh dan sempurna adat minangkabau karenanya.

- Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah, syarak mangato adat mamakai, simuncak mati tarambau, kaladang mambaok ladiang, lukolah paho kaduonyo, Adat jo syarak di Minangkabau, ibarat aua jo tabiang, sanda manyanda kaduonyo.

- Tasindoroang jajak manurun, takukiak jajak mandaki, Adat jo syarak kok tasusun, bumi sanang padi manjadi.

- Kesudahan adat ke balairung, kesudahan dunia akhirat,

- Limbago jalan batampuah, itu karajo niniak mamak,

- Sarugo diimam taguah, Narako dilaku awak,

- Pariangan manjadi tampuak tangkai, Pagaruyuang pusek tanah data, tigo luhak rang mangatokan, adat jo syarak kok bacarai, tampek bagantuang nan lah sakah, tampek bapijak nan lah taban.

- Indak dapek sarimpang padi, batuang dibalah kaparaku, indak dapek bakandak hati, kandak Allah nan balaku, dan sebagainya sebagainya.

6. Adat Minangkabau menjungjung tinggi kemanusiaan yang adil dan beradap, karena bahasa adat di Minangkabau bersamaan artinya dengan adab dalam bahasa Arab. Budi yang baik motor penggerak rasa kemanusiaan yang adil dan beradab.

- Nak mulia tepati janji, nak tinggi naiakkan budi, nak halui baso jo basi, nak taguah paham dikunci, nak luruih rantangkan tali, nak elok lapangkan hati.

- Kabukik samo mandaki, kalurah samo manurun, tatungkuik samo makan tanah, tatilantang samo minum ambun, tarapuang samo anyuik, tarandam samo basah.

- Nan barek samo dipikua, nan ringan samo dijinjiang, rusuah samo dipujuak, anyuik samo dipinteh, tarapuang samo dikaik, tabanam samo disalami.

- Nan elok baimbauan, nan buruak bahambauan, alek nan bapanggia, tibo dinan buruak bahambuan.

Sekali-kali jangan bersifat :

- Cadiak mambuang kawan, gapuak mambuang lamak, tukang mambuang kayu, alim mambuang kitab.

7. Adat Minangkabau mengutamakan persatuan dan kesatuan, dan rasa kebersamaan.

- Raso aia kamatang, raso minyak kakuali, nan bakabek rasan tali, nan babungkui rasan daun.

- Saciok bak ayam, sadanciang bak basi, sakabek bak lidih, saikek bak siriah, salubang bak tabu, sarumpun bak sarai, satandan bak pinang.

- Gadangnyo bakabungan, panjangnya bakaratan, lawehnyo basibiran, saadat salimbago, sahino samalu salai satidak, malu tak dapek diagiah, suku tak dapek dianjak.

- Sikua kabau bakubang, sakandang kanai luluaknyo, surang makan cubadak, sado kanai gatahnyo.

- Sakoroang sakampuang, sasuku sanagari, sabangso sa tanah aia.

- Barang pusako dilipek, parang samun samo dihado'i, kok kusuik-kusuik bulu ayam, kok pacah-pacah palupuah, tak bulia kusuik sarang tampuo, atau pecah tatimpo nan bak kaco.

8. Adat Minangkabau menjunjung tinggi prinsip musyawarah mufakat :

- Walaupun inggok nan mancakam, kuku nan tajam tak baguno, bago mamegang tampuak alam, kato mufakat nan kuaso.

- Duduk surang basampik-sampik, duduk basamo-samo balapang-lapang, lamak siriah lega carano, lamak kato dilega buni, kato surang dibulati, kato basamo dipaiyokan.

- pincalang biduak rang tiku, nampak nan dari si tinjau lawik, basilang kayu dalam tungku, disinan api makonyo iduik.

- Ba iyo-iyo jo adiak, ba tido-tido jo kakak, di cari bana nan saukua, dipiliah kato nan sabuah.

- Saukua mangko manjadi, sasuai mangko takanak, elok diambiak jo mufakat, buruak dibuang jo etongan.

- dibulekkan aia kapambuluah, bulek baru digolekkan,

- pipiah baru dilayangkan, bulek jan basuduik pipiah jan basanding, data balantai papan, licin balantai camin.

- tapawik makanan lantak, takuruang makanan kunci,

- randah tak dapek dilangkahi, tinggi tak dapek kito panjek,

dan lain sebagainya.

9. Keadilan sosial sangat mendapat tempat dalam Adat Minangkabau, karena penggeraknya adalah budi dan malu serta disinari oleh sinar ke-Tuhan-an Adat Basandi Syara', syara' basandi kitabullah.

- Kehilangan samo marugi, mandapek samo balabo, maruyuang siliah baganti, nan sagu bagi basamo,

- Maukua samo panjang, mambilai samo laweh, gadang kayu gadang bahan, ketek di agiah bacacah, gadang dibagi baumpuak,

- Senteng bilai-mambilai, kurang tukuak-manukuak, salah samo dibatua kan, lupo samo diingekkan,

- nan lamah samo dituweh, nan condong samo ditungkek, nan ado samo dimakan, nan indak samo dicari,

dan lain sebagainya.

10. Ekonomi mendapat tempat dalam adat minangkabau secara khusus.

- Sawah gadang satampang baniah, makanan urang tigo luak, dek pandai niniak baragiah, sampai kini baitu juo.

- sa sukek duo baleh taia, dicupak mako digantang, nan lunak ditanam baniah, nan kareh dibuek ladang, nan lancah palapeh itiak, ganangan katabek ikan, bukik batu katambang ameh, padang ana bakeh taranak, batanam nan bapucuak, memeliharo nan banyawo.

- Dek ameh sagalo kameh, dek padi sagalo jadi, elok lenggang dinan data, rancak rarak dihari paneh, elok baso dinan lai, ilang rono dek panyakik, ilang bangso tak barameh.

Untuk hal yang demikian dituntut oleh Adat :

- Hari sehari diparampek, malam samalam dipatigo, agak agiahkan jo ulemu, kok duduak marawik ranjau, kok tagak maninjau jarak, duduak ba pamenan, tagak baparintang.

- jikok bajalan ba aleh tapak, malenggang babuah tangan malangkah babuah batiah, bakato baaleh lidah.

1. Ketentuan tentang hukum :

- Hukum batando aso, cupak batando duo, kusuik disalasaikan, karuah dijanihi.

- di paruik jan dikampihkan, dimato jan dipiciangkan, didado jan dibusuangkan, bahukum adia bakato bana, indak buliah bakatian kiri, lurui bana dipegang sungguah.

12. Tentang tertuduah dalam sesuatu karena ada bukti kecurigaan.

- Anggang lalu atah jatuah, pulang pagi babasah-basah. - dibaok ribuik dibaok angin, dibaok pikek dibaok langau, - Bajua ba murah murah, ditanyo jawab batimbang. - Bajalan bagageh gageh, kacondongan mato rang banyak. - Tasindorong jajak manurun, tatukiak jajak mandaki. - lah bauriah bak sipasan, lah bajajak nan bak bakiak.

13. Ketentuan larangan hukum yang terlanggar oleh seseorang.

- Dago mambari malu, sumbang salah laku parangai,

- samun saka tagak dibateh, umbuak umbi budi marangkak,

- curi maliang taluang didindiang, tikam bunuh padang badarah,

- sia baka sabatang suluah, upeh racun batabuang sayak.

V. KESIMPULAN DAN SARAN

1. Satinggi malantiang, mambungbuang ka awang-awang, suruiknyo katanah juo, sahabih dahan jo rantiang, dikubak dikuliti batang, tareh panguba barunyo nyato,

2. Pan jeklah batang tinggi-tinggi, basuo pucuak jo silaronyo, kalilah urek dalam-dalam, basuo urek tunggang jo isinyo.

Globalisasi adalah sesuatu perobahan yang berjalan dengan cepat, arusnya deras tak bisa dihalangi. Sebagai perisai kita harus mampu memilah-milah yang baik dan idak baik, yang baik kita pakai, yang buruk kita buang. Sedini mungkin kita harus antisipasi terutama untuk para remaja kita yang masih hijau dalam bidang pengetahuan sosial apalagi tentang adat Minangkabau sehingga mudah terpengaruh arus globalisasi yang negatif.

3. - Ukua jo jangko kok tak tarang, susunan niniak moyang kito, nan manantukan ruweh jo buku, bariah jo balabeh sarato cupak jo gantang, Dek rancak kilek loyang datang, intan disangko kilek kaco, jalan dialiah urang lalu, cupak dipapeh rang manggaleh, adat dialiah dek urang datang,

- Dek rancak tajam mato cangkua, tanah bato manjadi data, padang diambiak kapanetek, dek rancak dendang tukang gandua, tak tahu dibarang lah batuka, gadang dituka urang jo nan ketek.

4. Adat Minangkabau adalah ke-Bhinneka-an dari kebudayaan Nasional Indonesia yang ber-Bhinneka Tunggal Ika. Demi untuk keutuhan Bhinneka Tunggal Ika Maka Adat Minangkabau sebagai salah satu ke Bhinnekaan-nya wajib kita lestarikan secara bersama, terutama melaui pendidikan formal disekolah-sekolah semenjak SD, SLTP, SLTA, dalam rangka pendidikan dasar 9 tahun pada muatan lokal.

5. Adat Minangkabau sifatnya terbuka dan tertutup, terbuka untuk menerima nilai-nilai yang positif bagi kepribadian dan kebudayaan bangsa dan tertutup bagi masuknya nilai-nilai Asing yang bertentangan dengan nilai-nilai kepribadian bangsa, pepatah mengatakan :

- Elok di ambiak jo mufakat, buruak dibuang jo etongan, saukua mangko manjadi, sasuai mangko takanak.

6. Mengetahui ajaran Minangkabau bagi masyarakat Minangkabau tampa kecuali dan mengamalkannya dalam hidup sehari-hari, adalah merupakan bantuan yang positif, terhadap KAMTIBMAS (Keamanan dan Ketertiban Masyarakat) terutama di daerah Sumatera Barat dan merupakan bantuan yang positif pula terhadap terciptanya Stabilitas Nasional yang sedang melakukan pembangunan dalam segala bidang.

 

 

BLRULE.GIF

Up ] Handycraft ] Geographic ] Places ] Culture ] Arts ] [ Adat ]       

BOUNCH~1.GIF